Sebagian besar pemilih adalah pemilih emosional yang menentukan capres-cawapresnya berdasarkan suka atau tidak suka.
Ketiga pasangan calon presiden-calon wakil presiden berfoto bersama setelah mengikuti debat yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum di kantor KPU, Jakarta, Selasa .
Jumlah pemilih rasional yang terbatas juga diakui peneliti Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional, Wasisto Raharjo Jati. Berdasarkan studinya dalam Pemilu 2014-2019, dia memperkirakan jumlah pemilih rasional hanya berkisar 5 persen-10 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Dalam pemilu presiden-wakil presiden 2024, tambah Wasisto, faktor ideologi makin membingungkan karena terjadi irisan identitas antarpasangan capres-cawapres yang ada. Identitas nasionalis terdapat pada pasangan capres-cawapres nomor urut 2 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dan nomor 3 Ganjar Pranowo-Mahfud MD. Adapun identitas religius, khususnya garis Nahdlatul Ulama, terjadi irisan antara pasangan nomor 1 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dan nomor 3.
Selain faktor emosional, pengaruh sosial juga sangat besar dalam menentukan capres-cawapres di tengah masyarakat Indonesia yang kolektif. Pandangan suami, keluarga, kiai atau tokoh agama, hingga pandangan teman dan tetangga tentang capres-cawapres tertentu akan menjadi pertimbangan kuat bagi seseorang dalam menentukan pilihan.
Desember 2023 dibandingkan dengan survei serupa Agustus 2023 dari 34,1 persen menjadi 18,0 persen antara lain karena kampanye negatif yang dilakukan partai pendukungnya. Mereka mengkritik terlalu tajam Jokowi yang sebelumnya maju dari partai yang sama. Wasisto menambahkan, kritikan memang bisa mendapat dukungan di segmen pemilih tertentu. Namun, cara itu belum tentu disukai kelompok pemilih yang lain. Sebagian pemilih lelah dengan konflik dan disintegrasi seperti yang terjadi pada Pemilu 2014 dan 2019. Mereka ingin pemilu yang damai, jauh dari friksi dan tendensi.
Repotnya, kedekatan emosional antara pemilih dan capres-cawapres yang didukungnya itu bisa menimbulkanalias politik klien yang mendorong jual beli suara. Dalam konteks politik Indonesia, jual beli suara ini jamak terjadi dalam berbagai tingkatan pemilu.
Pemilu 2024 Pemilih Rasional Karakter Psikologis Pemilih Pemilih Emosional
پاکستان تازہ ترین خبریں, پاکستان عنوانات
Similar News:آپ اس سے ملتی جلتی خبریں بھی پڑھ سکتے ہیں جو ہم نے دوسرے خبروں کے ذرائع سے جمع کی ہیں۔
Kerap Mendominasi Percakapan, Intip 4 Ciri-Ciri Karakter Orang yang Egois Menurut Ahli PsikologiSimak, beberapa tanda yang dapat membantu Anda mengidentifikasi sikap egois dalam diri Anda maupun orang lain.
مزید پڑھ »
Mengenal 5 Tokoh Psikologi Muslim yang Pemikirannya Sangat BerpengaruhTak kalah dari tokoh psikologi barat, Ini 5 tokoh psikologi muslim yang berpengaruh
مزید پڑھ »
Memahami Tingkat Partisipasi PemilihPersoalan suara tak sah dan pemilih yang tak menggunakan hak pilihnya turut memengaruhi tingkat partisipasi pemilih.
مزید پڑھ »
Survei Indikator Politik Indonesia: Mayoritas Pemilih Ganjar-Mahfud Puas dengan Penyelenggaraan PemiluMenurut dia, kepuasan terhadap penyelenggaraan pemilu jika dilihat dari basis pemilih capres dan cawapres tertinggi berada di kubu Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming.
مزید پڑھ »
Survei Indikator: 51,3 Persen Pemilih Ganjar Puas dengan Penyelenggaraan PemiluSurvei terbaru Indikator melaporkan salah satu temuan basis pemilih tiga pasangan capres-cawapres terkait penyelenggaraan Pemilu 2024.
مزید پڑھ »
Menilai Pemilu Harus Pertimbangkan Manipulasi terhadap PemilihJPNN.com : Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) Ramlan Surbakti mengatakan penilaian terhadap pelaksanaan pemilu tak bisa dipandang semata dari hasil.
مزید پڑھ »