Pendukung garis keras Presiden Reccep Tayyip Erdogan memeringatkan bahwa pemilu kali ini berpotensi menjadi ajang kudeta yang didukung negara-negara barat. Sementara, anak-anak muda berpotensi jadi kunci. Internasional AdadiKompas
Warga berjalan kaki melintas di depan poster bergambar wajah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di sebuah jalan di Istanbul, Turki pada Kamis .— Turki telah memulai proses pemungutan suara pemilihan umum, khusus bagi warganya yang tinggal di luar negeri. Pemilu yang bertepatan dengan 100 tahun usia Turki, dipandang banyak pihak sebagai sebuah refendum : perpanjangan masa jabatan Presiden Reccep Tayyip Erdogan atau sebaliknya, mengganti dengan pemimpin Turki yang baru.
sentimen yang sama, soal ketidaksukaan barat terhadap pemerintahan Erdogan disampaikan Erdogan sendiri. Dikutip dari laman kantor berita Turki Anadolu, Erdogan, dalam cuitannya di Twitter Jumat pekan lalu mengatakan, Turki tidak akan membiarkan politik domestiknya diarahkan oleh sebuah tulisan di media barat.
"Sebagai negara yang sejarahnya penuh dengan kemenangan gemilang, kita datang ke tempat yang layak kita dapatkan dalam sistem internasional,” ujarnya. Efe, yang masih balita ketika Erdogan mulai berkuasa pada 2003, mengatakan, dia meyakini bahwa kandidat pilihannya akan memperkuat supremasi ukum, hak asasi manusia dan kebebesan berekspresi. Dalam pandangan banyak pihak, semasa Erdogan berkuasa, tiga hal ini tidak dijamin oleh pemerintah Turki.Sejumlah surat kabar di Turki memasang foto kandidat presiden Turki, yaitu petahana Recep Tayyip Erdogan dan tokoh oposisi Kemal Kilicdaroglu di sebuah kios di Istanbul, Turki pada Jumat .
Di Kasimpasa, distrik kelas pekerja Istanbul tempat Erdogan bermain sepak bola di jalanan saat tumbuh dewasa, beberapa orang tidak takut berbicara menentang “putra daerahnya”.Baca juga :Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan , Presiden AS Joe Biden , Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson , terlibat perbincangan seru di sela-sela KTT NATO di Madrid, Rabu .
"Di masa lalu, Erdogan bisa membantu pendukung. Tapi krisis ekonomi merusak. Pendukungnya masih menyukainya, dan bahkan mencintainya, tapi mereka tidak senang harus membayar harga untuk itu," kata Seda Demiralp, ketua dari Departemen Hubungan Internasional di Universitas Isik di Istanbul.
پاکستان تازہ ترین خبریں, پاکستان عنوانات
Similar News:آپ اس سے ملتی جلتی خبریں بھی پڑھ سکتے ہیں جو ہم نے دوسرے خبروں کے ذرائع سے جمع کی ہیں۔
Tiba di Tenis Indoor GBK, Pendukung Teriaki Anies PresidenBakal calon Presiden (capres) 2024 Anies Baswedan tiba di Stadion Tenis Indoor Senayan, Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (7/5/2023).
مزید پڑھ »
Dianggap Ikut Campur Urusan Politik 2024, Presiden Jokowi DikritikSementara para bakal capres tancap gas mengumpulkan pendukung, Presiden Joko Widodo juga sibuk membahas politik 2024.
مزید پڑھ »
Presiden Erdogan Tuding Lawan Politiknya Pro-LGBT |Republika OnlineErdogan berupaya menarik basis pemilih Muslim konservatif.
مزید پڑھ »
Erdogan Ngebet Jadi Presiden 3 Periode, Begini Janji-Janji ManisnyaBerkat amendemen yang dimotori kroni-kroninya pada 2017, Recep Tayyip Erdogan kini berpeluang mewujudkan ambisinya jadi presiden Turki tiga periode
مزید پڑھ »
Pidato Anies Baswedan di Depan Pendukung dan Partai Politik Koalisi: Umbar janji soal Keadilan dan KemakmuranBakal Calon Presiden (Bacapres) Koalisi Perubahaan untuk Persatuan, Anies Baswedan menyinggung kontestasi Pemilu 2024.
مزید پڑھ »
Demokrat: SBY Tak Pernah Kumpulkan Parpol Pendukung di Istana Negara untuk Bentuk KoalisiPartai Demokrat mengktitisi langkah Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang telah mengumpul partai politik (parpol) pendukung pemerintah pada Selasa 2 Mei 2023. Partai...
مزید پڑھ »